I.                  PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

 

Menurut Akbar (2001), Permintaan ikan dunia dari tahun ke tahun cenderung meningkat sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk dan kualitas hidup yang diikuti perubahan pola konsumsi masyarakat. Makanan sehat dicirikan dari rendahnya kandungan kolesterol dan tingginya kandungan protein. Kondisi kandungan nutrisi tersebut dapat dijumpai pada produk ikan. Lonjakan permintaan ikan tersebut mustahil dapat terpenuhi kalau hanya mengandalkan hasil tangkapan. Salah satu alternatif terbaik untuk mengantisipasi peningkatan permintaan ikan adalah dengan mengembangkan pembudidayaan ikan.

Budidaya laut merupakan salah satu subsektor perikanan budidaya yang pengembangan berada dalam area terbatas. Biasanya letaknya di daerah yang memiliki ketenangan arus. Budidaya laut seperti halnya pada budidaya air tawar dan air payau juga harus didukung dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung pembudidayaan ikan di laut. Pembudidayaan ikan di laut selain memiliki ketenangan arus tertentu, juga memperhatikan tingkat salinitas, kejernihan air , pencahayaan dan kedalaman air lautnya.

Usaha budidaya laut sekarang mulai dikembangkan, mengingat negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang dua-pertiga bagian wilayahnya merupakan perairan dengan garis pantai 81.000 km. Hasil dari budidaya laut sangat penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin bertambah dan tidak cukup hanya mengandalkan hasil dari budidaya air tawar. Kegiatan usaha budidaya laut di Indonesia semakin berkembang dengan meningkatnya permintaan lokal dan internasional akan komoditas perikanan yang berasal dari laut, seperti ikan tuna, kekerangan, dan ikan kerapu. Salah satu produk perikanan yang potensial adalah komoditas lobster (Panulirus spp).

Menurut Sudradjat (2008), Lobster (Panulirus spp) merupakan komoditas ekspor bernilai ekonomis tinggi. Beberapa jenis lobster yang berharga tinggi dan terdapat di Indonesia yaitu Lobster Hijau Pasir (Panulirus homorus), Lobster Hijau (Panulirus versicolor), Lobster Mutiara (Panulirus ornatus).

1.2.              Pendekatan Masalah

Dalam kegiatan pendederan lobster (Panulirus spp) masih mengalami kendala yaitu rendahnya kelulushidupan pada stadia juvenil lobster. Hal ini diduga karena sifat kanibal pada stadia juvenil pada lobster. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan pengaturan padat penebaran pada stadia juvenile lobster, dengan padat penebaran yang tepat maka sifat kanibal pada lobster terutama pada stadia juvenile dapat ditekan dan pertumbuhan serta kelulushidupan juvenile lobster akan mendapatkan hasil yang terbaik. Penentuan tingkat padat penebaran ini didasarkan pada pernyataan Dwi Eny Djoko (2006), yaitu padat penebaran yang ideal untuk pemeliharaan lobster untuk sistem keramba jaring apung sebanyak 15-20 ekor per meter2 luas dasar kolam. Skema pendekatan masalah dapat dilihat pada Gambar 1.

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu :

  1. Mengatahui pengaruh padat tebar yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan dari lobster stadia juvenil (Panulirus spp).
  2. Mengetahui padat tebar yang dapat memberikan kelulushidupan dan pertumbuhan terbaik bagi lobster stadia juvenil.

 

1.4.Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini yaitu :

  1. Memberikan informasi mengenai padat penebaran yang terbaik bagi kelulushidupan dan pertumbuhan dari juvenil lobster air laut (Panulirus spp).
  2. Membantu sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya atau berikutnya.

1.5.            Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2011 –  selesai yang bertempat di Balai Budidaya Laut Lombok, NTB.

 

  1. II.               TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.            Biologi Lobster (Panulirus spp)

2.1.1.      Klasifikasi lobster

Menurut Moosa dan Aswandy (1984), klasifikasi lobster (Panulirus spp) adalah sebagai berikut :

Super class      : Crustacea

Class                : Malacostraca

Sub class         : Eurnalacoctraca

Superordo       : Eucarida

Ordo                : Decapoda

Subordo          : Reptantia

Superfamily     : Scyllaridae

Family             : Palirunidae

Genus              : Panulirus

Species            : Panulirus homarus, P. penicillatus. P. longipes,  P. Versicolor, P. Ornatus, dan P. polyphagus

Gambar

Gambar 2. Lobster (Panulirus spp)

 http://informasi-budidaya.blogspot.com/2009/04/budidaya-udang-barong.html

2.1.2.      Morfologi lobster

Menurut Moosa dan Aswandy (1984), morfologi dari lobster yaitu terdiri dari kepala dan thorax yang tertutup oleh karapas dan memiliki abdomen yang terdiri dari enam segmen. Karakteristik yang paling mudah untuk mengenali lobster adalah adanya capit (chelae) besar yang pinggirnya bergerigi tajam yang dimiliki lobster untuk menyobek dan juga menghancurkan makanannya. Udang karang mudah dikenal karena bentuknya yang besar dibanding dengan udang lainnya.

Menurut Isnansetyo dan Yuspanani (1993), morfologi dari udang karang atau lobster yaitu mempunyai bentuk badan memanjang, silindris, kepala besar ditutupi oleh carapace berbentuk silindris, keras, tebal dan bergerigi. Mempunyai antenna besar dan panjang menyerupai cambuk, dengan rostum kecil.

Menurut Muljanah et. al (1993), lobster secara umum memiliki tubuh yang berkulit sangat keras dan tebal, terutama di bagian kepala, yang ditutupi oleh duri-duri besar dan kecil. Mata lobster agak tersembunyi di bawah cangkang ruas abdomen yang ujungnya berduri tajam dan kuat. Lobster memiliki dua pasang antena, yang pertama kecil dan ujungnya bercabang dua disebut juga sebagai kumis. Antena kedua sangat keras dan panjang dengan pangkal antena besar kokoh dan ditutupi duri-duri tajam, sedangkan ekornya melebar seperti kipas. Warna lobster bervariasi tergantung jenisnya, pola-pola duri di kepala, dan warna lobster biasanya dapat dijadikan tanda spesifik jenis lobster.

Menurut Subani (1984), udang karang atau lobster memiliki ciri-ciri yaitu badan besar dan dilindungi kulit keras yang berzat kapur, mempunyai duri-duri keras dan tajam, terutama dibagian atas kepala dan antena atau sungut, bagian belakang badannya (abdomen) dan lembaran ekornya. Pasangan kaki jalan tidak mempunyai chela atau capit, kecuali pasangan kaki lima pada betina. Pertumbuhan udang karang sendiri selalu terjadi pergantian kulit atau molting, udang karang memiliki warna yang bermacam-macam yaitu ungu, hijau, merah, dan abu-abu serta membentuk pola yang indah. Memiliki antena yang tumbuh dengan baik, terutama antena kedua yang melebihi panjang tubuhnya.

Secara morfologi tubuh lobster terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian depan atau cephalothoraxs (kepala menyatu dengan dada) dan bagian belakang yang disebut abdomen (perut). Seluruh tubuh lobster terdiri dari ruas-ruas yang tertutup olek kerangka luar yang keras, bagian kepala terdiri dari 13 ruas dan bagian dada terdiri dari 6 ruas (Subani, 1984).

Menurut Sudradjat (2008), cephalothoraxs tertutup oleh cangkang yang keras (carapace) dengan bentuk memanjang kearah depan. Pada bagian ujung cangkang tersebut terdapat bagian runcing yang disebut cucuk kepala (rostrum). Mulut terletak pada kepala bagian bawah, diantara rahang-rahang (mandibula). Sisi kanan dan kiri kepala ditutup oleh kelopak kepala dan dibagian dalamnya terdapat insang. Mata terletak dibagian bawah rostrum, berupa mata majemuk bertangkai yang dapat digerakkan.

 

2.2.     Sistem Reproduksi Lobster

Lobster memiliki siklus hidup yang kompleks. Siklus hidup lobster mengalami beberapa tingkatan yang berbeda pada tiap jenis. Lobster termasuk binatang yang mengasuh anaknya walaupun hanya sementara.

Menurut Subani (1978), sistem pembuahan lobster terjadi di luar badan induknya (external fertilization). Indung telur nya berupa sepasang kantong memanjang terletak mulai dari belakang perut (stomach) dibawah jantung (pericarduim) yang dihubungkan keluar oleh suatu pipa peneluran (oviduct) dan bermuara di dasar kaki jalannya yang ketiga.

Menurut Moosa dan Aswandy (1984), ukuran panjang total lobster jantan dewasa kurang lebih 20 cm, dan betina kurang lebih 16 cm, sedangkan umur pertama kali matang gonad yaitu ditaksir antara 5 tahun – 8 tahun. Pada waktu pemijahan lobster mengeluarkan sperma (spermatoforik) dan meletakkannya di bagian dada (sternum) betina mulai dari belakang celah genital (muara oviduct) sampai ujung belakang sternum.

Peletakan spermatoforik ini terjadi sebelum beberapa saat peneluran terjadi. Masa spermatoforik yang baru saja dikeluarkan sifatnya lunak, jernih dan kemudian agak mengeras dan warna agak menghitam dan membentuk selaput pembungkus bagian luar atau semacam kantong sperma (Utami, 1999).

Pembuahan terjadi setelah telur-telur dikeluarkan dan ditarik kearah abdomen yaitu dengan cara merobek selaput pembungkus oleh betina dengan menggunakan cakar (kuku) yang berupa capit terdapat pada ujung pasangan kaki jalannya. Lobster yang sedang bertelur melindungi telurnya dengan cara meletakkan atau menempelkan dibagian bawah dada (abdomen) sampai telur tersebut dibuahi dan menetas menjadi larva atau biasa disebut burayak atau tumpayak (Moosa dan Aswandy, 1984).

Menurut Hasrun (1996), lobster betina kadang-kadang dapat membawa telur antara 10.000 -100.000 butir, sedangkan pada jenis-jenis yang besar bisa mencapai 500.000 hingga jutaan telur. Banyak sedikitnya jumlah telur tergantung dari ukuran lobster air laut tersebut.

Menurut Prisdiminggo (2002), lobster mempunyai periode pemijahan yang panjang puncaknya pada bulan November sampai Desember. Setiap individu hanya sekali memijah setahun. Tetapi pada musim perkembangbiakan, lobster dapat melakukannya lebih dari satu kali pemijahan. Waktu pemijahan sangat berhubungan dengan temperatur.

2.3.     Siklus Hidup Lobster

            Siklus hidup dari lobster mengalami beberapa perbuahan bentuk (stadia), seperti hal nya decapoda atau jenis krustacea yang lainnya maka larva lobster air laut yang baru menetas tersebut tidak langsung berbentuk seperti induknya.

Menurut Subani (1984) dalam Utami (1999), telur yang telah dibuahi dalam waktu 3-5 hari akan menetas menjadi stadia larva disebut juga burayak atau tumpayak. Dari mulai stadia larva sampai mencapai tingkat dewasa mengalami beberapa fase. Secara umum dikenal dengan adanya tiga tahapan stadia larva yaitu:

  • Naupliosoma
  • Filosoma
  • Puerulus

Perubahan dari stadia satu ke satadia yang lain selalu terjadi perubahan-perubahan bentuk metamorfosa yang terlihat dengan adanya modifikasi terutama pada alat-alat geraknya. Naupliosoma biasanya terjadi dalam waktu yang pendek, sering ditemukan pada daerah yang mendapatkan sinar matahari. Kemudian setelah mengalami pergantian kulit menjadi stadia Filosoma. Stadia Filosoma ini bentuknya pipih, tembus cahaya dan memiliki kaki yang berfungsi sebagai kaki apung (berenang). Stadia Filosoma ini masih terdiri dari beberapa tingkatan yang banyak tergantung dari spesiesnya.

            Menurut Moosa dan Aswandy (1984), pada panulirus penicillatus terdapat 11 tingkatan Filosoma. Akhir dari stadia Filosoma adalah dengan terjadinya pergantian kulit dan menjadi stadia baru yang mirip lobster air laut tetapi kulitnya belum mengeras, stadia ini disebut stadia Puerulus. Umur dari stadia ini berkisar

10-14 hari dan memiliki ukuran rata-rata 5-7 cm. Lamanya masa kehidupan sebagai burayak berbeda setiap jenis lobster, dalam pertumbuhannya setelah stadia larva terlewati maka akan menjadi udang karang muda yang kulitnya sudah mengeras karena diperkuat oleh zat kapur dan mempunyai ukuran 7-10 cm. Udang karang muda akan menuju ketempat yang lebih gelap dan dalam. Setealah stadia puerulus berakhir, maka terbentuklah udang karang muda dan sejalan dengan perubahan waktu maka terbentuklah udang karang dewasa.

2.4.      Habitat dan Penyebaran Lobster

            Menurut Subani (1984), lobster hidup pada beberapa kedalaman tergantung jenis dari spesies dan lingkungan yang cocok, udang karang dapat hidup pada kedalaman 5-30 meter. Udang karang berduri mempunyai pentebaran yang sangat luas mulai dari daerah temperate sampai tropik, hidup mulai dari daerah intertidal sampai perairan yang dalam.. Banyak spesies yang hidup pada daerah yang berbatu-batu, berlumpur, atau pasir dan membuat lubang. Palinuridae menyukai hidup pada lubang-lubang atau celah batu karang serta dasar dari terumbu karang. Jenis-jenis dari udang ini menyebar dari daerah litoral sampai kedalaman 400 meter di daerah tropik dan sub tropik. Pada daerah ekuator untuk perairan dangkal akan dijumpai genus panulirus. Keanekaragaman jenis lobster di perairan daerah tropika lebih besar daripada di daerah sub tropika, tetapi kelimpahannya relatif rendah. Lobster hijau (Panulirus versicolor) hidup pada perairan terumbu karang sampai pada kedalaman beberapa meter. Biasanya mendiami tempat-tempat yang terlindung di antara batu-batu karang dan jarang ditemukandalam kelompok yang berjumlah besar. Penyebaran dari lobster ini banyak terdapat diperairan barat Sumatera, selatan Jawa, perairan Nusa Tenggara Barat, perairan Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Halmahera.

Menurut Sudradjat (2008), hampir sepanjang hidupnya udang karang memilih tempat-tempat yang berbatu karang, di balik batu karang yang hidup maupun batu karang yang mati, pada pasir berbatu karang halus, di sepanjang pantai dan teluk-teluk, karena itulah organisme ini dikenal dengan nama udang karang atau lobster.

Udang karang (Panulirus spp) kurang menyukai tempat-tempat yang sifatnya terbuka dan terlebih arus yang kuat. Tempat-tempat yang disukai adalah perairan yang terlindung. Berdasarkan pengalaman nelayan, udang karang banyak terdapat di tempat-tempat yang memiliki kedalaman perairan 10 – 15 m. Kebiasaan hidupnya merangkak di dasar laut berkarang, di antara karang-karang, di gua-gua karang, dan di antara bunga karang. Berdasarkan kebiasaannya merangkak, maka udang karang dapat dikatakan tidak pandai berenang, walaupun memiliki kaki renang (Subani, 1984).

2.5.      Pakan dan Kebiasaan Makan

            Menurut Mudjiman (2004), Ikan dapat tumbuh secara optimal jika memperoeh makanan dalam jumlah yang cukup dan gizi seimbang. Dengan kata lain, ikan membutuhkan makanan yang lengkap dalam jumlah yang cukup, dalam budidaya perikanan saat ini terjadi kecenderungan bahwa semakin besar perusahaan maka perusahaan tersebut akan dikelola semakin intensif. Hal tersebut berarti, pada lahan yang kapasitas volumenya sama, padat penebarannya semakin bertambah banyak agar produksinya meningkat. Namun, pengelolaan pada tingkat padat penebaran tinggi dilakukan dengan biaya produksi yang rendah sehingga ikan harus diberi makanan, terutama pakan buatan.

   Jumlah ransum dan komposisi gizi yang dibutuhkan oleh seekor ikan berbeda-beda dan selalu berubah. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis ikan, umur ikan, dan ketersediaan pakan alami di dalam tempat peliharaannya.

Di perairan, makanan untuk kebutuhan ikan sebenarnya sudah tersedia yaitu berupa makanan alami yang banyak sekali macamnya, baik dari golongan hewan (zooplankton, invertebrate, dan vertebrate), tumbuhan (phytoplankton maupun tumbuhan air) dan organisme mati (detritus). Organisme yang dapat menjadi makanan ikan tersebut sangat bervariasi tergantung kepada tropic level, untuk suatu jenis ikan tertentu makanan dapat bervariasi menurut ukuran, tempat/habitat, musim dan jenis kelamin (Anonimus, 2007).

            Menurut Sudradjat (2008), Selama tiga bulan pertama masa pemeliharaan, ikan atau kulitivan diberi pakan berupa ikan rucah, seperti tembang, selar, dan peperek hingga kenyang. Tujuh bulan berikutnya pemberian pakan hanya dilakukan satu hari sekali dengan dosis 4-6% bobot badan.

Menurut Nontji (1993), udang karang termasuk hewan nokturnal yang aktif pada malam hari keluar meninggalkan sarangnya untuk mencari makan dan pasif pada siang hari. Hewan nokturnal memiliki aktivitas yang tinggi pada permulaan menjelang malam dan berhenti beraktivitas dengan tiba-tiba ketika matahari terbit.

Udang karang mengkonsumsi moluska dan echinodermata sebagai makanan yang paling digemarinya, selain ikan dan protein hewan lainnya, terutama yang mengandung lemak, serta jenis algae (Utami, 1999).

Pada awalnya udang karang diperkirakan adalah scavenger, hal ini dikarenakan lebih banyak dari udang karang memakan umpan yang terpasang pada perangkap, tetapi setelah dilakukan analisa isi lambung dan pengamatan di laboratorium ternyata pendapat tersebut tidak benar. Makanan dari udang karang adalah hewan yang masih hidup atau baru saja dibunuhnya, dan lobster air laut cukup selektif dalam memilih makanannya (Kanciruk, 1980).

2.6.      Padat Penebaran

            Menurut Anggoro (1992), padat penebaran adalah jumlah ikan yang ditebarkan atau dipelihara dalam satu-satuan luas tertentu. Padat penebaran ini erat kaitannya dengan produksi dan kecepatan tumbuh ikan yang diharapkan. Peningkatan padat penebaran akan berhenti pada suatu batas tertentu, karena pakan dan lingkungan menjadi faktor pembatas.

Menurut Widha (1993), ada dua efek kepadatan yang berpengaruh pada populasi organisme air, pertama mempengaruhi pertumbuhan dan yang kedua adalah mempengaruhi kelulushidupan. Efek pertumbuhan yang tergantung pada kepadatan, pada umumnya terjadi pada awal kehidupan yang akan mempengaruhi kelulushidupan.

Menurut Widha (1993), mengatakan bahwa padat penebaran yang terlalu tinggi menyebabkan ikan menjadi lemah karena kompetisi dan persaingan dalam mendapatkan ruang gerak, oksigen dan pakan sehingga kelulushidupannya akan rendah atau terhambatnya pertumbuhan akibat kekurangan pakan, dengan demikian ada batas padat penebaran dan batas ini tergantung dari umur dan ukuran ikan.

Menurut Mundriyanto (2001) dalam Sukmajaya dan Suharja (2003), bahwa semakin rendah kepadatan maka semakin rendah pertumbuhannya karena semakin meningkat kepadatan mengakibatkan kompetisi antar individu semakin tinggi, baik dalam memperoleh ruang gerak, pakan, maupun dalam memperoleh oksigen.

2.7.      Kelulushidupan

Menurut Effendie (1997), kelulushidupan merupakan suatu peluang untuk hidup pada saat tertentu. Metode yang umum digunakan untuk menyatakan tingkat kelulushidupan adalah perbandingan antara jumlah individu yang hidup pada akhir percobaan dengan jumlah individu pada awal percobaan.

Menurut Hepher (1988), mengatakan bahwa kelulushidupan dan pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi jenis kelamin, keturunan, umur, reproduksi, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan memanfaatkan pakan. Faktor eksternal meliputi kualitas air, padat penebaran, jumlah dan komposisi kelengkapan asam amino dalam pakan.

2.8.      Kualitas Air

            Beberapa sifat air laut yang harus diperhatikan antara lain suhu air, kadar garam (salinitas), berat jenis, derajat keasaman (pH), kandungan oksigen, kandungan karbondioksida, dan kejernihan. Sifat-sifat air tersebut mempengaruhi kenyamanan makhluk hidup didalamnya (Akbar, 2001).

            Menurut Effendi (2003), suhu dan salinitas memainkan peranan yang penting dalam kehidupan organisme laut dan estuaria. Suhu sangat berperan dalam mempercepat metabolisme dan kegiatan organ lainnya. Suhu yang tinggi dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan terjadinya pengeringan sel.

Menurut Sudjiharno dan Cahyo (1998), Keasaman air yang lebih dikenal dengan pH (Paissanee negatif de H) juga sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan ikan. Keasaman dihitung berdasarkan logaritma negatif dari ion-ion hidrogen per liter air. Keasaman (pH) yang terlalu tinggi atau rendah akan meracuni ikan dan hewan lainnya. Derajat keasaman suatu perairan menunjukan tinggi rendahnya konsentrasi ion hodrogen perairan tersebut. Kondisi perairan dengan pH netral sampai sedikit basa sangat ideal untuk kehidupan ikan air laut. Suatu perairan yang ber-pH rendah dapat mengakibatkan aktivitas pertumbuhan menurun atau ikan menjadi lemah serta lebih mudah terinfeksi penyakit dan biasanya diikuti dengan tingginya tingkat kematian. Keasaman air dapat diukur menggunakan pH tester atau kertas pH. Pengelolaan kualitas air tidak jauh berbeda dengan pemeliharaan ikan pada umumnya, diperlukan penyiponan kotoran dan sisa pakan didasar wadah. Pergantian air minimal satu kali sehari, sekitar 20-50 % atau bila diperlukan. Hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan kualitas air optimal dan tetap jernih.

Kisaran parameter kualitas air untuk pemeliharaan lobster secara lengkap, disajikan pada tabel 1 :

Tabel 1. Parameter kualitas air untuk pemeliharaan lobster (Panulirus spp)

Parameter

Kisaran Nilai

Suhu (oC)

11–29*

Salinitas (‰)

25-45***

DO (ppm)

>5***

pH

Kedalaman (m)

Amoniak (ppm)

7,8-8,5**

                           11-15*

 < 0.1***

Sumber: *Menurut Cook (1978) dalam Cobb and Phillips (1980)

**Menurut Effendi (2003)

***Menurut Kanna (2006)

 

 III.           METODELOGI PENELITIAN

 

3.1.            Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

  1. Diduga perbedaan padat penebaran berpengaruh terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan lobster (Panulirus spp).

Hipotesis terbut secara statistik dapat ditulis sebagai berikut :

H0 : Padat penebaran yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan lobster.

H1 : Padat penebaran yang berbeda berpengaruh terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan lobster.

adapun ketentuan dalam pengambilan hipotesis dengan uji 1 adalah sebagai berikut :

Jika terdapat pengaruh yang nyata dari perlakuan tersebut, maka tidak ada perlakuan yang terbaik pengaruhnya.

Hipotesis terbut secara statistik dapat ditulis sebagai berikut :

H0 : Tidak ada padat penebaran yang memberikan kelulushidupan dan pertumbuhan terbaik pada pemeliharaan lobster.

H1 : Ada padat penebaran yang memberikan kelulushidupan dan pertumbuhan terbaik pada pemeliharaan lobster.

3.2 Materi Penelitian

Materi uji yang digunakan dalam penelitian ini meliputi hewan uji, wadah pemeliharaan, dan peralatan penelitian.

3.2.1.      Hewan uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah juvenil lobster yang diperoleh dari sekitar wilayah perairan Lombok, NTB

3.2.2.      Wadah pemeliharaan

Wadah yang digunakan adalah akuarium, wadah yang digunakan dilakukan pengacakan posisi penempatan.

3.2.3.      Peralatan penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari peralatan dan disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Alat yang digunakan pada saat penelitian.

No       Alat                             Kegunaan                                            Keterangan

1. water quality checker          Mengukur kualitas air

2. Timbangan elektrik             Menimbang bobot hewan uji

3. Akuarium                            Wadah hewan uji

4. Aerasi                                  suplai oksigen

3.3.            Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini meliputi persiapan penelitian dan pelaksanaan penelitian.

3.3.1.      Persiapan penelitian

3.3.1.1. persiapan hewan uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah lobster yang diperoleh dari alam, berasal dari penangkapan disekitar perairan Lombok, NTB, ukuran dari lobster stadia juvenile berkisar antara 1,5 – 2 cm, selanjutnya lobster diadaptasikan dengan melakukan aklimatisasi terhadap kualitas air media, setelah masa aklimatisasi hewan uji dimasukkan kedalam wadah yang telah disediakan sesuai perlakuan.

3.3.1.2. persiapan wadah pemeliharaan

Tahap ini dilakukan persiapan wadah pemeliharaan yaitu berupa akuarium dengan ukuran wadah menyesuaikan, sebelum wadah ini digunakan terlebih dahulu dicuci dan dibilas air bersih kemudian dijemur hingga kering. Selain wadah tempat pemeliharaan, dibersihkan pula selang, aerator, wadah pakan dan peralataan lainnya. Air yang digunakan untuk pemeliharaan diperoleh dari bak-bak penampungan (tandon).

3.3.2.      Pelaksanaan penelitian

3.3.2.1. penebaran juvenil lobster

Setelah dilakukan proses adaptasi terhadap juvenile lobster yang akan diujicobakan, kemudian juvenile ditimbang sebagai berat awal setelah itu ditebar di wadah. Wadah penelitian telah dipersiapkan sebelumnya.

3.3.2.2. pengelolaan kualitas air

Pengukuran parameter kualitas air pada pemeliharaan lobster dilakukan dengan menggunakan alat water quality checker. Parameter kualitas air tersebut meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut dan amoniak.

3.3.2.3. pemberian pakan

Pakan yang diberikan untuk lobster air laut adalah ikan rucah dan Cumi-cumi segar yang dipotong dan disesuaikan dengan bukaan mulut. Pemberian pakan yang diberikan mempunyai persentase 3-5 % dari biomassa lobster tersebut dan memiliki frekuensi pemberian pakan lebih banyak diberikan pada waktu malam hari karena sifat dari lobster air laut yang bersifat nokturnal.

3.3.2.4. penimbangan bobot hewan uji

Pngukuran pertumbuhan bobot lobster dilakukan pada awal pemeliharaan dengan menimbang tubuh lobster setiap wadahnya. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan elektrik dengan skala atau ketelitian sesuai timbangan yang digunakan.

3.4.            Kerangka Penelitian

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen. Menurut Srigandono (1992), metode penelitian yang digunakan untuk menyelidiki ada atau tidaknya hubungan sebab akibat serta berapa besar hubungan sebab akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menyediakan kontrol untuk pembanding.

Percobaan dilakukan untuk menguji hipotesa untuk menemukan hubungan-hubungan kausal yang baru. Walaupun hipotesa telah dapat diuji dengan metode percobaan, tetapi penerima maupun penolakan hipotesa bukan merupakan penemuan suatu kebenaran yang mutlak. Eksperimental bukanlah merupakan titik akhir dari tujuan, akan tetapi merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan (Robert et al., 1989).

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Rancangan ini dicirikan dengan adanya satuan percobaan yang homogen, jumlah ulangan sama pada setiap perlakuan dan hanya ada suatu faktor yang diteliti yaitu padat penebaran. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Adapun perlakuan-perlakuan yang dimaksud yaitu :

Perlakuan A : Padat penebaran 15 ekor/m2

Perlakuan B : Padat penebaran 20 ekor/m2

Perlakuan C : Padat penebaran 25 ekor/m2

Perlakuan D : Padat penebaran 30 ekor/m2

Penentuan tingkat padat penebaran ini didasarkan pada pernyataan Dwi Eny Djoko (2006), yaitu padat penebaran yang ideal untuk pemeliharaan lobster air laut untuk sistem keramba jaring apung sebanyak 15-20 ekor per meter2 luas dasar kolam.

3.5.            Pengumpulan Data

3.5.1.      Kelulushidupan

Menurut (Effendi, 1997), tingkat kelulushidupan dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

SR = Nt / No x 100 %

Keterangan :

SR : Kelulushidupan (%)

No : Jumlah kultivan pada awal penelitian

Nt : Jumlah kultivan pada akhir penelitian

3.5.2.      Pertumbuhan

3.5.2.1. pertumbuhan relatif (%)

Menurut Effendi (1997), Pertumbuhan mutlak diukur secara periodik dalam mingguan dari awal hingga akhir penelitian dengan menimbang berat biomassa dari juvenil lobster air laut. Pertumbuhan mutlak dapat dihitung dengan rumus :

W =  Wt-Wo x 100 %

Wo

Keterangan :

W = Pertumbuhan relatif (%)

Wo = Berat hewan uji pada awal penelitian (g)

Wt = Berat hewan uji pada akhir penelitian (g)

3.5.2.2. laju pertumbuhan harian (% hari)

Menurut (Effendie, 1997), laju pertumbuhan harian adalah presentase dari selisih berat akhir dan berat awal yang dibagi dengan lamanya waktu pemeliharaan. Perhitungan laju pertumbuhan harian dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

SGR = LnWt-LnWo x 100 %

T

Keterangan :

SGR = Laju pertumbuhan harian (% hari)

Wo = Berat hewan uji pada awal penelitian (g)

Wt = Berat hewan uji pada akhir penelitian (g)

T = Waktu penelitian (hari)

3.6.    Analisis Data

Analisa data dilakukan terhadap data oertumbuhan dn pertambahan bobot tubuh dan kelulushidupan lobster. Sebelum data dianalisis terlebih dilakukan uji kenormalitasan data dengan uji normalitas dan uji homogenitas. Data yang telah memenuhi syarat tersebut dilakukan uji analisis keragaman untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan tersebut.

Apabila dalam analisis perlakuan menunjukan perbedaan nyata pada selang kepercayaan 95 % atau berbeda sangat nyata pada taraf 99 % maka dilanjutkan dengan membuat uji wilayah ganda Duncan untuk mengetahui perbedaan nilai tengah antar perlakuan yang memberikan kelulushidupan dan pertambahan terbaik bagi juvenil lobster (Panulirus spp).

 

 

About these ads